Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Agustus 2015

Kisah Keajaiban Seoarang Dokter | Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu


Sejak pulang dari itikaf di masjid selama 3 hari bersama jamaah dakwah, dokter Agus menjadi pribadi yang berbeda. Sedikit-sedikit bicaranya Allah, sedikit-sedikit bicaranya Rasulullah.

Cara makan dan cara tidurnya pun berbeda, katanya itulah cara tidur nabi saw. Rupanya, pengalaman itikaf dan belajar di masjid betul-betul berkesan baginya.

Ada semangat baru. Namun beliau juga jadi lebih banyak merenung. Dia selalu teringat-ingat dengan kalimat yang dibicarakan amir jamaah.


"Obat tidak dapat menyembuhkan,... yang menyembuhkan adalah Allah...
Obat bisa menyembuhkan berhajat kepada Allah,... karena sunnatullah. Sedang Allah menyembuhkan, tidak berhajat melalui obat...... Allah bisa menyembuhkan dengan obat atau bahkan tanpa obat... Yang menyembuhkan bukanlah obat, yang menyembuhkan adalah Allah"

Dia-pun merenung, bukan hanya obat, bahkan dokter pun tidak punya upaya untuk memberi kesembuhan. Yang memberi kesembuhan adalah Allah.

Sejak itu sebelum memeriksa pasiennya, beliau selalu bertanya.

"Bapak sebelum kesini sudah ijin dulu kepada Allah?" atau "sudah berdoa meminta kesembuhan kepada Allah?" atau "sudah lapor dulu kepada Allah?".

Jika dijawab belum (....kebanyakan memang belum...), beliau meminta pasien tersebut mengambil air wudhu, dan sholat 2 rakat di tempat yang telah disediakan.

Jika memberikan obat, beliau pun berpesan dengan kalimat yang sama..... obat tidak bisa menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Allah. Namun berobat adalah sunnah dari Rasulullah saw dan sebagai ikhtiar dan sunnatullah, agar Allah mau menyembuhkan....

Ajaib,.... banyak pasien yang sembuh...!

Jika diperiksa dengan ilmu medis, peluang sehatnya hampir tidak ada, ketika diberikan terapi "Yakin" yang diberikan beliau, menjadi sehat.

Pernah ada pasien yang mengeluh sakit, beliau minta agar org tsb untuk sholat 2 rakaat (minta ampun dan minta kesembuhan kpd Allah), ketika selesai sholat pasien tersebut langsung merasa sehat dan tidak jadi berobat. (Allahu-Akbar)

Rudi, Asistennya bertanya, kenapa dia langsung sembuh?...
dr. Agus katakan, bisa jadi sumber sakitnya ada di hati, hati yang gersang karena jauh dari Allah. Efek lain adalah pasiennya pulang dalam keadaan senang dan gembira. Karena tidak hanya fisiknya yang diobati, Namun batinnya pun terobati. Hati yang sehat, membuat fisik yang kuat. Dan sebaik-baik obat hati adalah Dzikr, Quran, Wudhu, Sholat, Doa dan tawakal pd Allah.

Pernah ada pasien yang jantungnya bermasalah dan harus di operasi.

Selain Yakin, beliau juga mengajarkan terapi cara hidup Rasulullah. Pasien tersebut diminta mengamalkan satu sunnah saja, yaitu sunnah tidur.

Sebelum tidur berwudhu, kalo bisa sholat 2 rakaat, berdoa, berdzkir, menutup aurat, posisi kanan adalah kiblat, dan tubuh miring ke kanan.

Seminggu kemudian, pasien tersebut diperiksa. Alhamdulillah, tidak perlu dilakukan operasi. Allah telah memberi kesembuhan atasnya.

Ada juga pasien yang ginjalnya bermasalah. Beliau minta agar pasien tersebut amalkan sunnah makan dan sunnah di dalam wc. Makan dengan duduk sunnah sehingga posisi tubuh otomatis membagi perut menjadi 3 (udara, makanan, dan air). Kemudian buang air kecil dengan cara duduk sunnah, menguras habis2 kencing yang tersisa dengan berdehem 3 kali, mengurut, dan membasuhnya dengan bersih. seminggu kemudian, saat diperiksa ternyata Allah berikan kesembuhan kepada orang tersebut.

Rudi pernah sedikit protes. Sejak melibatkan Allah, pasiennya jadi jarang bolak-balik dan beresiko mengurangi pendapatan beliau.

Namun dr. Agus katakan bahwa rezeki adalah urusan Allah. Dan beliau jawab dengan kalimat yang sama dengan redaksi yang berbeda, bahwa "sakitnya pasien tidak dapat mendatangkan rezeki, yang memberi rezeki adalah Allah. Allah juga bisa mendatangkan rezeki tanpa melalui sakitnya pasien".

6 bulan berikutnya seorang pasien yang pernah sembuh karena diminta sholat oleh beliau, datang ke klinik, mengucapkan terima kasih, dan berniat mengajak dokter yserta asistennya umroh bulan depan. dr.Agus kemudian memanggil rudi ke dalam ruangan. Sebenarnya beliau tahu bahwa rudi ingin sekali berangkat umroh. Namun kali ini beliau ingin bertanya langsung dengannya.

"Rudi, bapak ini mengajak kita untuk umroh bulan depan, kamu bersedia?".
Rudi tidak menjawab, namun matanya berbinar, air matanya tampak mau jatuh.

"Sebelum menjawab, saya ijin sholat dulu pak" ucapnya lirih. ia Sholat yang lama sekali, sepertinya ini sholat dia yang paling khusu'. pelan, terdengar dia terisak-isak dalam doanya...

Insya ALLAH bermanfaat.
Aamiin yra....

Minggu, 05 Juli 2015

BERDOA DI MEKKAH AGAR DIKARUNIAI 4 ANAK, WANITA INI MELAHIRKAN 4 ANAK KEMBAR


Anak merupakan anugerah terindah yang diberikan sang Pencipta. Setiap pasangan yang sudah menikah pasti mendambakan kehadiran anak di tengah-tengah mereka. Akan tetapi, tak semua pasangan dengan cepat dikaruniai seorang anak. Mereka harus sabar menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkannya.

Seperti hal nya pasangan Happy Ayunita Mahardina (32) dan Heru Kunadi (34), sudah lima tahun menikah mereka belum juga dikaruniai keturunan. Hingga akhirnya pasangan ini memutuskan untuk mencoba bayi tabung.


Bagaimana cerita Happy melakukan bayi tabung agar memperoleh keturunan? Berikut rangkuman ceritanya:

1. Happy pernah lakukan bayi tabung 3 kali tapi gagal

Lima tahun tak dikaruniai seorang anak, tak mematahkan semangat pasangan Happy Ayunita Mahardina (32) dan Heru Kunadi (34) untuk berusaha memperoleh keturunan. Langkah memiliki anak dengan cara bayi tabung akhirnya ditempuh oleh pasangan ini.

Meskipun mengeluarkan biaya tak sedikit dengan cara itu, mereka rela demi melengkapi bahtera rumah tangganya. Pertama kali melakukan bayi tabung pada Januari 2013, namun sayang, bayi tabung mereka yang pertama gagal.

Tak putus asa, Happy pun mencoba lagi pada bulan Februari 2013 hasilnya sama masih gagal. Kemudian Maret di tahun yang sama kembali mencoba bayi tabung dan sama juga masih gagal.

2. Sebelum lahirkan bayi kembar 4, Happy berdoa di Mekkah minta 4 anak

Usaha pasangan suami-istri itu untuk mendapatkan momongan tak henti-hentinya. Selain mencoba bayi tabung tiga kali, mereka juga pergi ke tanah suci Mekkah pada akhir 2013 lalu.

Saat di Mekkah, dia berdoa agar segera mendapatkan momongan. Tak tanggung-tanggung dia memohon kepada Allah SWT diberikan empat anak.

"Di keluarga ku itu rame, kita ada empat bersaudara, jadi pengen punya anak banyak juga. Aku berdoa di sana minta anak empat," katanya pada merdeka. com di RS Sarjito, Kamis (29/1).

Beberapa bulan pulang dari tanah suci, dia dan suaminya pun kemudian kembali memutuskan untuk mencoba lagi bayi tabung. "Kita udah pasrah, coba lagi ini untuk terakhir kali," ujarnya.

Tanpa memberi tahu orang tua dan saudara, dia dan suaminya berangkat ke Surabaya saat awal bulan puasa 2014. Mereka mencoba membuat bayi tabung di RS Siloam Surabaya.

"Aku browsing, nonton berita, itu si Inul bisa dapat anak di Siloam, Jonatan Frizzi juga dapat kembar di sana. Akhirnya kita putuskan ke sana," jelasnya.

Sebulan di Surabaya, mereka mendapat kabar menggembirakan. Happy tidak datang bulan. Setelah diperiksa, di dalam rahimnya tumbuh empat janin bayi.

"Padahal yang disuntikkan ada tiga, tapi jadinya empat," tambahnya. Dia pun teringat doanya saat di tanah suci.

"Oh iya saya minta empat anak, nggak sangka langsung di kasih empat bruk, kembar, senang, kaget. Keluarga juga nggak ada yang menyangka semua," tandasnya.

3. Dokter sempat sarankan bayi di kandungan Happy dikurangi

Mengandung empat bayi dalam waktu yang bersamaan bukanlah perkara mudah. Hal tersebut dibenarkan oleh Happy Ayunita Mahardina (32) yang baru saja melahirkan empat bayi tabung kembar pada 26 Januari lalu.

Kondisi itu sempat membuat dokter menyarankan Happy untuk mengurangi satu bayinya. Sebab, salah seorang bayi terhimpit oleh tiga bayi lainnya di bagian paling bawah rahim.

"Dokter sempat bilang ya kalau dikurangi gimana? Karena resikonya juga besar. Tapi aku bilang kalau bisa jangan, aku nggak mau, ini anak yang udah dititipkan Allah ke aku," kata Happy pada merdeka. com di RS Sarjito, Kamis (29/1).

Akhirnya dengan berbagai syarat, Dokter memperbolehkan bayi tersebut dipertahankan.

"Harus intensif, berhati-hati, dilarang ini itu, bed rest pokoknya. Aku bilang aku sanggup, pasti bisa," ujarnya.

Sejak hamil dua bulan, Happy sudah meninggalkan semua pekerjaannya. Dia juga mematikan hanphonenya beberapa bulan. Supaya dia tidak kehilangan kontak dengan teman-teman, saudara dan rekan kerjanya, dia selalu mengupdate informasi kesehatannya lewat facebook.

"Aku tulis di status facebook, kalau ada perlu silahkan kontak suami saya. Jadi kalau ada apa-apa aku nggak kepikiran, suami yang urus, nanti dia sampaikan ke aku, seperlunya aja," jelasnya.

Usaha kerasnya untuk tidak bersibuk-sibuk dengan pekerjaan membuahkan hasil. Keempat bayinya bisa lahir dalam keadaan sehat tanpa kekurangan satu apapun.

"Jujur saja aku kan belum pernah hamil satu anak, ini langsung dapat anak empat, bayangin empat, senangnya. Nggak sia-sialah selama berbulan-bulan menahan diri untuk nggak ke mal atau kerja dan lainnya," urainya.

4. Sebulan dirawat di RS Sarjito, Happy lahirkan bayi tabung kembar 4

Happy melahirkan empat bayi tabung kembar melalui operasi sesar di RS Sarjito, Selasa (26/1) siang sekitar pukul 11.30 WIB. Dari keempat bayi tersebut tiga berjenis kelamin laki-laki, satunya perempuan.

Keempat bayi tersebut lahir dalam kondisi sehat dengan masing-masing seberat 2 kg, 1,8 kg, 1,6 kg dan 1,3 kg.

Semula Happy tidak menyangka jika dia mengandung bayi kembar empat, pasalnya sebelumnya dia sudah mencoba tiga bayi tabung namun selalu gagal.

"Saya kaget sekaligus senang, setelah lima tahun menikah akhirnya punya anak, empat sekaligus lagi," katanya di RS Sarjito, Kamis (29/1).

Dalam proses kehamilan, dia sempat merasa khawatir. Pada kehamilan tiga bulan, perutnya sudah sebesar hamil sembilan bulan. Besarnya kandungan membuatnya harus beristirahat terus di rumah sampai akhirnya air ketubannya pecah pada usia kandungan 29 minggu.

Beruntung dia dan Heru Kunadi (34), suaminya segera ke rumah sakit. Dia pun harus tinggal di rumah sakit sekitar satu bulan sampai akhirnya melahirkan.

"Saya khawatir karena setelah diperiksa dokter ternyata yang bayi yang di bawah terhimpit, ketubannya pun tinggal satu centimeter tebalnya, akhirnya, pada usia kandungan 32 minggu lebih 5 hari di putuskan sesar," ujarnya.

Meski mengalami masa yang berat, dia mengaku lega keempat anaknya bisa lahir dalam keadaan normal. Padahal sebelumnya pembuahan bayi tabung yang dilakukannya sempat gagal beberapa kali.

Barulah ketika dia melakukan pembuahan bayi tabung di RS Siloam Surabaya pada bulan Juni 2014 lalu, dia langsung mengandung empat janin.

"Tiga kali melakukan itu di rumah sakit lain, pertama bulan Januari 2013, Februari lalu Maret, gagal semua. Yang keempat disuntik tiga sel telur, tapi kemudian salahnya membelah diri menjadi dua, jadi totalnya empat," jelasnya.

Keempat bayi kembar tersebut rencananya akan dinamai dengan nama Rabani, Habibi, Ghani dan Safea.

"Nanti yang jadi kakaknya Safea, yang perempuan, dia yang paling bawah terhimpit, dan yang beratnya 1,3 kilo. Saya sudah janji sama diri sendiri, nanti yang paling bawah yang selama ini ditendang-tendang yang lain, dia yang akan jadi tertua," tandasnya.

Jumat, 03 Juli 2015

Jadi PEROKOK Pasif Wanita ini Kehilangan Suaranya


Masih ingat kasus Almarhum robby? Yang kehilangan pita suara akibat rokok? (Baca Pesan Robby sebelum meninggal), Selain Robby ada juga wanita korban rokok yang kini harus kehilangan suaranya..

Ike Wijayanti (37) membenahi posisi jilbabnya untuk menutup bagian lehernya yang berlubang. Lubang itu menganga cukup besar karena kanker pita suara yang dideritanya.


“Saya kehilangan suara saya,” tulis Ike di sebuah papan menggunakan kapur tulis.

Ike menderita kanker pita suara karena asap rokok. Padahal, ibu dua anak asal Surabaya ini tidak pernah merokok. Namun, selama 10 tahun ia terpapar asap rokok di tempat kerjanya.

“Berhentilah merokok, asapmu membunuh mimpi-mimpi orang di sekitarmu,” ucap Ike dengan suara serak dan nyaris tak terdengar.

Pengalaman hidup Ike sebagai perokok pasif ditayangkan dalam ikan layanan masyarakat selama 30 detik, yang diluncurkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama World Lung Foundation.

Kepala Pusat Promosi Kesehatan Kemenkes Lily Sulistyowati mengatakan, iklan layanan masyarakat ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya paparan asap rokok dan menegaskan bahayanya bagi perokok pasif.

“Ibu Ike ini bekerja di restoran selama 10 tahun yang terpapar asap rokok dari lingkungannya. Jadi, di restoran tersebut selalu banyak perokok,” ungkap Lily dalam acara peluncuran iklan layanan kesehatan tersebut di Gedung Kemenkes, Jumat (22/5/2015).

dok. Pusat Promosi Kesehatan Iklan Layanan Masyarakat untuk berhenti merokok
Iklan ini sudah ditayangkan di sejumlah televisi swasta sejak 17 Mei 2015 hingga dua minggu ke depan. Sekretaris Jenderal Kemenkes RI Untung Suseno Sutarjo berharap iklan ini dapat mengajak banyak orang untuk berhenti merokok dan mencegah munculnya perokok baru.

“Iklan kita sekarang baru satu, tapi lawannya iklan yang mendorong untuk merokok lebih banyak. Mudah-mudahan upaya ini bisa berdampak besar, meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa rokok itu berbahaya,” kata Untung.

Untung mengungkapkan, jumlah perokok di Indonesia diperkirakan mencapai 53,7 juta orang dewasa. Penelitian Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2008-2013 mencatat lebih dari 85 persen orang dewasa di Indonesia terkena paparan asap rokok di rumah, lebih dari 78 persen di tempat makan, dan lebih dari 50 persen di tempat kerja.

Sumber: Kompas.com

Rabu, 24 Juni 2015

Inilah Pesan Roby Sebelum Meninggal... Ayo Dukung Roby selamatkan anak bangsa!

Nama saya Roby Indra Wahyuda
Lahir 12 Oktober 1988
Aku kerja di Dinas Pendidikan
Saya awal mula merokok hanya coba-coba
SD sekitar kelas 6
(saya) divonis kanker laring stadium 3
Operasi pengangkatan pita suara
Setelah tiga bulan malah makin parah
Ketika orang bilang aku sakit, aku butuh dana sekian
(bagi saya) Itu mahal sekali, dengan harga rokok yang murah sekali..
Nyanyi saya sudah tidak bisa, saya jadi merasa tidak bermanfaat
Waktu saya merokok, saya tidak percaya yang namanya penyakit paru-paru
Merokok mati, gak merokok mati, lebih baik merokok sampai mati
(tapi sekarang) saya mendekati kematian
"Saya tidak bisa mengimami istri saya lagi saat sholat", katanya ketika curhat kepada saya. Saya tidak menyangka efek rokok bisa sampai sejauh ini menembus ruang pribadi kehidupan dalam rumah tangga Robby. Mengimami istri adalah salah satu tugas/kewajiban seorang suami dalam agama Islam dan tiba-tiba saja kewajiban yang sakral dalam sebuah rumah tangga ini direnggut begitu saja dan dicampakkan

Itulah testemoni yang diutarakan Roby Indra Wahyuda dalam video kampanye anti rokok Komunikasi Pengendalian Tembakau (Kompak). Kini setelah berjuang panjang melawan kanker laring yang dideritanya, Allah SWT memanggil Roby Indra Wahyuda
Innaillahi Wainnaillahi Rojiun.

Sebelum kematian menjemputnya, beliau telah menjadi seorang penjuang anti rokok yang punya mimpi kelak generasi penerus bangsa Indonesia bisa terbebas dari rokok dan tidak bernasib seperti dirinya.
Orangnya memang telah meninggalkan kita semua... tapi perjuangannya patut kita lanjutkan. Mari ditandatangani petisi yang dibuatnya dulu dan berharap pemerintah Indonesia saat ini mau meratifikasi FCTC. Mohon TTD dan share link dibawah yaa...

Klik >> CHANGE.ORG << Klik

Sumber : Erta Priadi Wirawijaya

Senin, 22 Juni 2015

Allah tumbuhkan lagi Rahim Untukku | Kisah NYATA

Bismillahir-Rahmanir-Rahim ... Apa jadinya bila wanita terpaksa harus kehilangan rahimnya? Kenyataan pahit ini saya alami sendiri. Dokter kandungan memutuskan untuk mengangkat rahim saya karena myoma yang bersarang di dalamnya. Saya langsung limbung, pikiran mendadak linglung. Saya tak sanggup membayangkan harus kehilangan mahkota saya di usia 29 tahun.

Hingga suatu ketika, Allah menyadarkan saya lewat bencana tsunami Aceh pada Desember 2004. Saya terhenyak melihat kapal laut dengan berat berton-ton bisa terhempas dari laut ke daratan di tengah kota, dan banyaknya korban yang bergelimpangan akibat dahsyatnya terjangan tsunami. Allahu Akbar! Allahu ‘ala kulli syai’in qodiir!


Sejak kejadian itu, saya berpikir kenapa saya harus takut kehilangan rahim yang jelas-jelas ciptaan Allah? Bila memang sudah ketentuan-Nya rahim ini harus diangkat maka yang harus saya lakukan hanyalah ikhlas.

Akhirnya, di awal 2005 saya mantap menjalani operasi pengangkatan rahim. Sebelumnya, saya berusaha menyelesaikan semua pekerjaan saya. Sebab umur tidak ada yang tahu, kalau ajal menjemput saya pada saat operasi, setidaknya saya sudah menunaikan tanggung jawab saya.

Tanpa terasa, sebulan pasca operasi berlalu. Saya jalani hari demi hari dengan penuh kepasrahan. Saya ikhlas ketika menyadari tak bisa lagi menstruasi. Pupusnya rencana memberi adik untuk anak semata wayang pun saya berusaha menerimanya dengan lapang hati.

Tapi tak bisa dipungkiri, tanpa rahim di tubuh membuat saya merasa tak berharga di hadapan suami. Ketika saudara atau kerabat menanyakan kapan kemungkinan saya memiliki anak lagi, hati saya tertoreh. Wallahu 'alam, hanya itu yang bisa saya gumamkan.

Namun, diam-diam hati ini masih menyimpan harapan. Setiap usai shalat saya berdoa, “Ya Allah tak ada yang mustahil bagi-Mu untuk menyempurnakan kembali fisik hamba ini. Amin” Saya panjatkan doa itu sambil membayangkan tayangan tsunami Aceh di televisi yang memperlihatkan betapa mudahnya bagi Allah menciptakan dan menghancurkan sesuatu bila Dia telah berkehendak.

Dua bulan kemudian, sebuah keajaiban terjadi. Subhanallah, saya menstruasi! Langsung saja saya periksa ke dokter. Melihat kondisi saya, dokter heran. Sebab, darah yang keluar benar-benar darah haid. Padahal secara medis setelah rahim diangkat tidak mungkin lagi saya bisa menstruasi, apalagi hamil. Saya pulang dan bersyukur atas anugerah yang Allah berikan. Tak hentinya saya mengucap, “Wallahu‘ala kulli syai’in qodir.”

Saya lalui hari dengan penuh syukur, sampai suatu saat menstruasi saya tak kunjung datang lagi. Kekhawatiran muncul, apakah sudah saatnya saya benar-benar tidak subur seperti wanita lain? Saya kembali ke dokter dengan dag-dig-dug walau tetap pasrah apa pun yang terjadi. Tapi tahukah pembaca? Air mata ini seperti berebut keluar ketika mendengar diagnosa dokter, saya dinyatakan positif hamil! Subhanallah! Dari hasil USG terlihat rahim dan ovarium saya utuh kembali tanpa tanda-tanda pernah mengalami suatu penyakit.

Allahu Akbar. Alhamdulillah, ya Rabb, tidak ada yang tidak mungkin bagi-Mu. Cinta-Mu selalu luar biasa untuk diri ini.

~ o ~

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...

Naudzubillah, Akibat Memberi Makan Suami Dengan Darah Haid Dan Air Mani

Anda mungkin sudah pernah mendengar tentang ilmu hitam untuk memperdaya suami agar menurut pada istrinya, salah satunya yaitu seperti yang akan diceritakan kisah dibawah ini,

Kisah ini diceritakan oleh Ustaz Nahrawi (bukan nama sebenarnya) tentang kisah istri durhaka seorang temannya yang bernama Arifin (bukan nama sebenarnya). Semoga dapat kita ambil iktibar dan tauladan. Benar atau tidak kisah ini, hanya Allah saja yang tau. Apa yg lebih penting, kita ambil iktibar dan pengajaran dari kisah ini ..

Ilustrasi 
Lama benar saya tidak bertemu dengan Ariffin . Rasanya sudah lebih tujuh tahun sejak kawan lama saya itu di arahkan mengajar di Johor . Karena itulah , ketika dia datang ke kantor saya pagi itu , saya Merasa terlalu heran ." Eh , makin kurus nampak . Diet ? " Kata saya setelah mempersilakannya duduk .

 " Tak ada . biasa guru sekarang ini macam - macam pekerjaanya . Kurikulumlah , kokurikulumlah , sukanlah . badan gemuk pun bisa jadi Tinggal tulang , " balas Arifin ." Lihat ini ustaz , baju pun dah menggelebeh . Celana pun longgar , " Tambah Arifin sambil menarik lengan baju untuk menunjukkan betapa kurusnya dia dan besarnya baju yang di pakai .Setelah bertanya itu ini dan menggodanya sedikit , saya bertanya Arifin tentang hajatnya datang menemui saya . 

Tiba - tiba saja Muncul , pasti ada hajat yang ingin di sampaikan ." Orang rumah saya sakit , ustaz " , kata Arifin ." Patutlah aku lihat kamu lain kayak tadi . Ketawa pun tidak, . Sakit apa ? " Saya bertanya . Agak lambat Arifin menjawab . Dia menarik nafas , kemudian meraup muka dan seterusnya bersandar di kursi . Setelah itu disorotnya mata saya dalam - dalam ." Entahlah . " Katanya perlahan ," Lima tahun lalu tiba - tiba saja badan dia melepuh - lepuh . Di kaki , paha , perut , dibelakang . penuh dengan lecet macam orang terkena air panas , " kata Arifin .Tambahkan teman lama saya itu , dia telah membawa istrinya , Niza , ke Seluruh rumah sakit dan klinik , namun obat yang di beri oleh dokter tidak Dapat meredakan penyakitnya ." Sakit apa , dokter pun tak tau , " tambahnya ." Dah pergi berobat ? " Saya bertanya ." Dah , tapi macam - macam katanya . Duit banyak habis , waktu terbuang , tapi sakitnya tak juga sembuh , " jelas Arifin .

Bahkan , kata teman saya itu , lepuh - lepuh menjadi bertambah banyak pula Hingga tubuh istrinya yang langsing menjadi lembab . Wajahnya yang Cantik juga berubah murung , kusut" Itu masih tak mengapa ustaz . Yang menambah kekhawatiran saya , Setelah beberapa lama , lepuh - lepuh itu berubah pula jadi gerutu dan berbintil - bintil macam katak puru , " tambah Arifin .Akibatnya , sekali lagi Niza menderita karena setelah tubuhnya jelek Akibat sembab , seluruh kulitnya yang dulu licin menjadi ofensif . Dari tangan , bintil - bintil kecil dan besar seperti bisul tumbuh merata , kaki sampai ke muka .Karena penyakit itu , teman yang datang mengunjungi terkejut karena hampir tidak mengenalinya lagi . Akibatnya , Niza terpaksa berhenti kerja . Dia malu untuk berhadapan dengan teman sekantor .Memang ada yang bersimpati tapi ada juga yang mengejek . Banyak yang menyindir di belakang , tapi ada juga yang tanpa rasa bersalah mengaibkannya secara berhadapan .Dua tiga tahun berlalu , penyakit Niza bertambah parah . Sehelai demi sehelai rambutnya rontok hingga hampir botak . 

Rambut yang lembut mengurai menjadi jarang hingga menampakkan kulit kepala yang memutih . Keadaannya itu sangat menyedihkan karena usia awal 30an , rambutnya seperti wanita berumur 90an . Seperti daun karet gugur di musim panas , semakin hari semakin banyak rambut Niza gugur . Dalam waktu yang sama , kuku tangan dan kakinya juga menjadi lebam . Dari biru , ia berubah kehitaman seperti di penuhi darah beku ." Tiap hari , dia termenung . Dia mengeluh , mengapa dia sakit macam ni . Kenapa dia , bukan orang lain ? Apa salah dia ? Kasian betul saya tengok , " kata Arifin . 

Wajahnya sayu" Hidup kami pun jadi tak terurus macam dulu " .Di sebabkan dokter lokal gagal menyembuhkan penyakit Niza , Arifin membawa istrinya ke Singapura . Hampir sebulan mereka di sana dan banyak uang di habiskan namun pulang dengan hati kecewa . Dokter di negara itu juga tidak dapat menemukan penawar kondisi penyakit tersebut ." Sekarang ni , kondisi istri saya dah bertambah parah . Bila malam saja dia meraung , meracau dan menangis - nangis . Jadi , saya harap ustaz dapat menolong sedikit sebab dah habis ikhtiar saya mengubatinya dengan cara modern , " tambah Arifin ." InsyaAllah . " Balas saya .Tapi saya mulai terasa aneh . Perasaan ingin tahu mulai tumbuh karena berdasarkan pengalaman , kata - kata yang terucap saat seseorang yang mengigau dapat membantu kita merawatnya . Ini karena saat mengigau itulah dia meluapkan segala yang terbuku di hati ." Apa yang dia bicara masa mengigau itu ? "" Macam - macam ustaz . tapi ada waktunya dia minta ampun maaf dari saya . Saya tanya kenapa ? . Dia tak bicara , Cuma minta maaf saja . Ya Allah . orang dah sakit memang macam tu , " kata Arifin .Saya cuma diam .  

Mengiakan tidak , menggeleng pun tidak . Setelah berbincang lama , dia meminta diri . Sebelum pulang , saya berjanji untuk ke rumah Arifin pada malam harinya ." Datang ya , ustaz . Saya tunggu , " katanya sambil mengangkat punggung .Dia kemudian melangkah lemah meninggalkan kantor saya . Seperti yang dijanjikan , saya sampai ke rumahnya setelah isyak ." Silahkan masuk ustaz , " Arifin mempersilakan sambil membawa saya ke sebuah ruangan ." Dia baring dalam kamar ini . Ustaz jangan terkejut saat lihat muka dia .  

Orang rumah saya ini sedikit sensitif, " bisiknya sebelum kami masuk ke kamar tersebut .Saat pintu di buka , terlihat seorang wanita berselimut paras dada terbaring miring menghadap ke dinding ." Za . Ni Ustaz Nahrawi datang , " kata Arifin perlahan sambil memegang bahu istrinya . Dengan lemah , Niza menoleh . Masya Allah memang kondisi Niza sangat menyedihkan . Wajahya penuh dengan bintil - bintil yang menggerutu . Matanya terperosok ke dalam sementara tulang pipi membojol seperti bongkahan batu yang membayang dipermukaan tanah . Badannya pula kurus kurus dan kepala setengah botak menandakan dia sudah lama menderita . Niza cuma tersenyum hambar memandang saya . Saya dekati dia dan setelah lima menit meneliti keadaannya , saya panggil Arifin ke sudut kamar .Dengan suara setengah berbisik , saya bertanya ; " Pin , saya tanya sebelum itu, saya minta maaflah kalau nanti kamu tersinggung " ." Tidak , ustaz . bertanyalah , saya akan jawab , " jawab Arifin ." Err , . Dari mana datangnya bau yang . " tanya saya , tapi tak sanggup tuk meneruskannya . Bau yang saya maksudkan itu agak busuk ." Ooo . mmm , dari alat vital dia , " kata Arifin perlahan ." Keluar lendir bercampur nanah . "Saya tidak memperpanjang lagi topik itu karena tidak ingin mempermalukan Arifin dan istrinya . 

Lagi pun tidak manis untuk bertanya tentang hal - hal yang seperti itu .Sebelum kami duduk kembali di sisi Niza , saya memberitahu Arifin , kadangkala di timpa penyakit seperti ini sengaja di turunkan balasan oleh Allah karena ada melakukan dosa atau durhaka kepada orangtua . Lantas saya bertanya , apakah Niza sudah meminta ampun dari orang tuanya ." Sudah ustadz . Dengan emak dan ayah nya pun sudah . "" Kalau begitu , baguslah , " kata saya .Setelah merawat Niza dengan doa dan ayat yang dikutip dari Al - Quran , saya meminta diri . Sebelum itu saya menyarankan Arifin dan Niza serta keluarga mereka agar bersabar dengan ujian Allah ." Sama - samalah kita berdoa agar dia sembuh , " kata saya sebelum meninggalkan rumah Arifin .Sudah ketentuan Allah , ternyata kondisi Niza menjadi bertambah parah . Hal ini saya ketahui ketika Arifin menghubungi saya beberapa minggu kemudian . Menurut teman saya itu , istrinya kini kian parah kondisinya .Memang benar . Bila saya melihat waktu itu , Niza terlihat semakin parah . Sekejap - sekejap dia mengigau yang bukan - bukan .
Bahkan saya pun tidak dikenalnya lagi .Sebelum pulang saya menyarankan Arifin agar melakukan solat hajat memohon ke hadirat Ilahi sehingga menyembuhkan istrinya . Saran saya itu dipatuhi namun beberapa hari kemudian Arifin menghubungi lagi . Kali ini suaranya lebih sedih , seperti hendak menangis ." Ustaz , " katanya ," Sekarang barulah saya tau kenapa dia jadi seperti itu ustaz "" Kenapa ? " Saya bertanya ..." Sejak dua tiga malam lalu , dia minta ampun dari saya dan ceritakan semuanya " . Arifin melanjutkan ceritanya ;Malam itu saya terkejut sebab saat mengigau istri saya minta ampun karena telah menetapkan ilmu kotor kepada saya . Kata Niza , dia telah memasukkan darah menstruasi dan air maninya ke dalam makanan saya .Saya tanya " Kenapa ? "Dia jawab , supaya nurut kata - katanya dan tak cari perempuan lain ." Saya amat kesal , setelah itu dia meminta ampun karena telah berlaku curang kepada saya . Kata Niza , dia lakukan perbuatan itu setelah saya ditundukkan dengan ilmu hitam . "Saya tanya , kapan waktu kau buat ? Dia jawab selama ketidakhadiran saya , kira saat saya bertugas di luar daerah . Saat keluar seorang diri , dia telah melakuakn hubungan dengan beberapa pria ." Niza sebutkan nama pria - pria itu , tapi saya tak kenal . Kata Niza , hubungan mereka bukan sebatas kawan saja , bahkan sudah ke tingkat zina . Karena itu dia minta berbanyak - banyak ampun dari saya .Dia minta saya maafkan . " Saya tidak meyangka benar , ustaz . Madu yang saya beri , racun yang dibalasnya .  

Patutlah selama ini bila berhadapan dengan dia saya jadi hilang pertimbangan . Saya jadi lemah , rasa diri saya kerdil , takut tuk membantah . Sudah begitu , dia jadi perempuan . " Kata Arifin tanpa sanggup menghabiskan kata - katanya . Termenung saya mendengar ceritanya itu .Tidak saya sangka Niza sanggup berperilaku demikian karena Arifin bukan orang sembarangan . Arifin berpendidikan agama dan setia kepada istrinya . Budi bahasa pun baik ." Kalau sudah begitu bunyinya , saya rasa sulit maafkanlah dia , " kata saya .Selain itu saya menyarankan kepada Arifin agar merelakan istrinya pergi .Kata saya , mungkin nyawa istrinya itu terlalu sulit meninggalkan jasad karena dia menginginkan pengampunan dari suaminya terlebih dahulu . "Lagipula , dia sudah terlalu menderita , sampai badan tinggal tulang , kepala pun dah nak botak . Dokter itu sudah konfirmasikan penyakit dia tidak dapat disembuhkan lagi . Jadi , menurut saya , dari dia terus azab menanggung siksaan sakaratulmaut , adalah lebih baik kalau kau relakan saja dia pergi .Saya tau itu susah nak di buat , tapi keadaan memaksa . "" Ampunkan dia ? " Arifin bertanya balik ." Dia dah tergoda dengan saya , buat tak senonoh dengan pria lain , kenakan ilmu sihir kepada saya , ustaz mau saya maafkan dia ? " Tingkah Arifin dengan suara yang agak keras .

Mungkin dia terkejut ." Ya . dia pergi dengan aman dan awak pula dapat pahala , " jelas saya . Saya terus membujuknya supaya mengalah demi kebaikan istrinya . Saya katakan , yang lalu lepaslah . Lagi pun Niza sudah mengaku dosanya , jadi adalah lebih baik Arifin memaafkannya . Mungkin dengan cara itu Niza akan insaf dan meninggal dengan mudah ." Takkan awak nak biarkan dia menderita ? Kau mau pukul dia ? Maki dia ? Tak ada gunanya . Maafkan saja dia dengan hati yang benar - benar ikhlas , " jelas saya .Setelah puas membujuk , akhirnya Arifin mengalah juga . 

Lalu saya nasihatkan supaya dia bacakan surat Yasin tiga kali dan ulangkan ibu Yasin ( salaamun qaulam mirrabir rahim ) sebanyak tujuh kali ." Buat malam ini juga . Lalu tunaikan shalat , " kata saya . Seminggu kemudian Arifin menelepon saya . Dengan sedih ia memberi tahu istrinya sudah meninggal dunia . Tambahkan teman saya itu , Niza pergi tanpa siapapun sadari karena ketika itu dia sedang menunaikan shalat Isya . saat kembali , dia melihat istrinya tidak bernyawa lagi ." Tapi Alhamdulillah , sebelum pergi dia sempat minta ampun dari saya sekali lagi karena memberontak . Marah , memang marah , tapi bila dia pegang tangan saya sambil menangis dan kemudian minta ampun , tidak sanggup juga rasanya untuk membiarkan dia pergi dalam keadaan tanpa kemaafan dari saya . Ustaz , saya sudah maafkan dia ." Namun demikian , kata Arifin , lendir dan nanah busuk masih mengalir dari alat kelamin almarhum istrinya itu sampai mayatnya dimakamkan .

NB : Kisah ini memberi kita kewaspadaan agar tidak sembarangan memilih istri, janganlah memperistri wanita yang hanya karena kecantikannya, pilihlah wanita yang faham dan menjalankan agama dengan baik sekaligus Shaliha.

Sumber : http://masboy0212.blogspot.com

Jika Istrimu Cerewet CINTAI dan SYUKURILAH!


Tak selamanya cerewet itu jelek. Tidak selalu cerewet itu menyebalkan, menjengkelkan, mengesalkan, ataupun dampak buruk lainnya. Dalam banyak keadaan, kecerewetan istri amatlah bermanfaat. Kelak akan Anda sadari, di dalam kecerewetan istri, terdapat kebaikan yang banyak.

Ketika Subuh belum menyapa sebab fajar belum masanya tiba, kecerewetan istri mungkin saja akan mengganggu waktu rehat Anda. Padahal, hari itu Anda lembur dan baru pejamkan mata empat atau lima jam yang lalu. Lalu dengan polos dan tanpa merasa berdosa, istri Anda mulai membisiki telinga, meyentuh kulit, dan sedikit menggoyangkan badan Anda dengan kalimat yang tak dikehendaki nafsu, “Mas, ayo bangun… Cepetan sayang… Sebentar lagi subuh…”

Dan, ketika Anda menarik selimut serta membenarkan bantal, tiba-tiba ia datang seraya memercikan air ke wajah Anda dengan gaya khasnya yang lembut, mengikuti saran sang Nabi pilihan umat. Agar, kalian berdua senantiasa diberkahi.

Lalu ketika Anda mulai mengumpulkan nyawa seraya duduk di tepi ranjang, rupanya kecerewetannya belum berhenti. Ia pun membimbing seraya menarik mesra badan Anda, kemudian menuntun agar Anda bergegas ke kamar mandi, mengambil air wudhu.

Setelahnya, ketika Anda sudah berhasil lari dari jeratan setan lantaran kecerewetan perkataan dan perbuatan istri Anda di pagi yang belum melek itu, saat Anda hendak beranjak kembali ke ranjang melanjutkan tidur setelah dirikan rakaat Tahajjud secukupnya, percayalah bahwa kecerewetan itu tidak akan berhenti, bahkan akan senantiasa bertambah.

“Mas, kok tidur lagi?” ujarnya seraya mendekat, “Sudah mau adzan tuh.” Kemudian dengan sedikit gelayutan manja di bahu yang padanya didapati ketenangan sandaran, ia mengatakan sembari daratkan kecupan hangat penuh kemesraan di kening Anda, “Sana berangkat ke masjid.”
“Iya sayang… Baru juga adzan.” Jawab Anda setengah hati.

Saat mendengar jawaban ngeles yang Anda sampaikan itu, bersiaplah untuk mendengarkan ceramah sebelum Subuh yang penuh dengan tekanan dan ekspresi sepenuh hatinya, “Sayang… Datang lebih awal itu lebih baik… Biar dapat unta merah…”

“Iya, iya, sebentar. Mau merem. Sebentar aja kok.”
Ketika Anda belum menutup mulut, percayalah bahwa materi ceramahnya akan semakin bertambah, dan kali ini cukup membuat Anda bergegas menyambangi suara adzan Subuh yang menentramkan itu, “Mas.. Cepetan berangkat… Sudah ditungguin bidadari tuh…”
“Ah,” kilah Anda sembari membenarkan posisinya, “masih juga di dunia.”
“Ya udah deh…” lanjut istri Anda dengan kecerewetannya, “Nanti ditambahin bidadari dunia deh…”
Maka siap-siaplah, tepat ketika Anda bergegas setelah mendengar motivasi terakhir itu, sepulangnya dari masjid tidak ada lagi kopi hangat yang biasa menemani waktu santai Anda di pagi yang berkah itu.

Karenanya, percayalah; sayangi dan cintai kecerewetan istri Anda, sebab di dalamnya terdapat kebaikan yang amat banyak

Minggu, 21 Juni 2015

Seminggu Lagi Nikah, Lelaki Sholeh itu Zinahi Calon Istri, Lalu Meninggal Dunia


Dia dikenal lelaki sholeh di antara teman-temannya. Aktivis dakwah yang mapan dan berada. Sudah punya usaha yang sudah dirintisnya sejak kuliah. Begitu juga calon istrinya. Berjilbab. Juga aktivis dakwah. Walau berasal dari keluarga kurang mampu.

Tapi, pedih sekali mengetahui kisah keduanya. Yang gagal menikah. Dan berakhir nestapa.

Seminggu lagi mereka menikah, keduanya hendak memeriksa calon bakal rumah. Letaknya lumayan jauh, sehingga kemungkinan besar mereka harus menginap.

Awalnya, sang calon istri tak mau pergi berdua saja. Sehingga dicarilah orang ketiga menemani. Seluruh teman sang calon istri tak bisa. Memang, akhirnya ada yang menyanggupi. Berangkatlah ketiganya, tapi di tengah jalan: ditelepon keluarga. Ada urusan mendadak. Dia harus pulang, saat itu juga.

Sang lelaki sholeh dan calon istrinya dihadapkan pada kondisi nanggung. Karena merasa tak mungkin kembali lagi, keduanya melanjutkan perjalanan.

Mereka lalu memeriksa rumah itu. Berbincang. Berdegup. Saling pandang. Tergoda. Dan… terjadi. Mereka melakukan dosa besar itu di sana.

Tak peduli kalau mereka aktivis dakwah. Tak peduli dengan pendidikan Islam yang selama ini mereka terima. Tak peduli mereka harusnya menahannya. Toh hanya beberapa hari lagi. Setelah itu semua berpahala. Bukan membuat Allah murka.

Tapi, semua sudah terjadi.

Dan saat iman telah kembali, penyesalan itu memenuhi dada. Kepala. Seluruh tubuh. Hingga terpancar di wajah-wajahnya.

Paginya, mereka hendak pulang ke rumah masing-masing. Namun, sang lelaki sholeh dihantui peristiwa semalam. Dia merasa begitu bodoh. Merasa tolol. Rasanya perjalanan takwanya telah berkeping-keping. Dia mengendarai mobil dalam hati yang mengawang. Pikiran yang tak awas. Sepertinya. Hingga, kecelakaan terjadi. Dan lelaki sholeh itu meninggal. Saat itu juga.

Sang calon istri sempat koma sebelum tersadar. Ia terbangun dengan hati semakin hancur. Dia tak jadi menikah. Terlanjur berzina. Dan hamil. Tak tahu apa kata teman-teman aktivis dakwahnya saat ia melahirkan anak hasil perbuatan terlarang itu. Bahkan keluarga calon suaminya tak percaya, menuding anak itu benih lelaki lain.

“Doakan saya kuat, Ustadz,” mohonnya pada Salim a. Fillah, yang telah terlebih dahulu mengisahkan cerita ini dalam salah satu tulisannya.

Ya Allah. Na’udzubillah. Lindungilah kami dari akhir semacam ini.

Kisah Nyata : 15 Tahun Suami Koma, Istri Sholehah Tetap Setia


Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata :

Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami.

Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun… Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa’) tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya…

Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.

Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki.

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur’an padahal umurnya kurang dari 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.

Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun. Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah.

Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya.
Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku…
Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.
Putriku bercerita :

Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai. Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-.

Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, “Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??”

Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam do’aku, “Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa ‘Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut’aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…

Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…”

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh.

Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., “Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?”. Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku…

Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, “Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!”. Maka aku berkata kepadanya, “Aku ini putrimu Asmaa'”. Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.

Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : “Subhaanallahu…”. Dokter yang lain dari Mesir berkata, “Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…”. Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata, اللهُ خُيْرًا حًافِظًا وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak..??

Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa’ akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma…

Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do’a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo’ kecuali do’a…barang siapa yang menjaga syari’at Allah maka Allah akan menjaganya.

Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…

Ini adalah kisahku sebagai ‘ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup…

Maka ketuklah pintu langit dengan do’a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah….
Demikianlah….Alhamdulillahi Robbil ‘Aaalamiin (SELESAI…)
Janganlah pernah putus asa…jika Tuhanmu adalah Allah…
Cukup ketuklah pintunya dengan doamu yang tulus…
Hiaslah do’amu dengan berhusnudzon kepada Allah Yang Maha Suci
Lalu yakinlah dengan pertolongan yang dekat dariNya…
(sumber : http://www.muslm.org/vb/archive/index.php/t-416953.html , Diterjemahkan oleh Firanda Andirja)

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 19-11-1434 H / 25 September 2013 M
Sumber : firanda.com

Wanita Ini Aborsi hingga 18 Kali Karena Suami Ingin Anak Laki Laki!!


Televisi Vietnam Rabu lalu menayangkan kisah tentang seorang wanita di Provinsi Hai Duong utara yang telah melakukan aborsi hingga 18 kali. Semua itu dilakukan karena sang suami menginginkan seorang anak laki-laki.

Kisah ini menyebar dengan cepat di Vietnam dan jadi perbincangan para netizen. Diyakini praktik aborsi karena gender marak dilakukan. Seperti yang diberitakan oleh thanhnien news, wanita yang identitasnya dilindungi ini mengatakan hidupnya tidak hanya sulit karena kemiskinan, tetapi juga karena tekanan untuk melahirkan seorang bayi laki-laki dari keluarga.

Suaminya adalah anak tertua dari keluarganya. Banyak keluarga di Vietnam yang masih mempertahankan tradisi kuno bahwa hanya anak laki-laki yang dapat mewarisi dan melindungi aset keluarga.

Setelah melahirkan empat anak perempuan, suaminya kecewa dan tertekan. Setelah itu ia memutuskan untuk tidak mempertahankan kehamilan jika calon bayi yang dikandung bukan anak laki-laki.


Dalam tayangan video tersebut, wanita itu tidak mengatakan secara pasti berapa kali ia melakukan aborsi. Namun pembaca melaporkan saat tayangan pembuka dilaporkan bahwa ia sudah melakukan 18 kali aborsi.

Meski kisah ini terdengar begitu ekstrim dan jarang bagi seorang wanita untuk melakukan aborsi sering kali, aborsi selektif karena jenis kelamin ini sangat umum terjadi di negara yang rasio kelahirannya pada September lalu 120 bayi laki-kali per 100 bayi perempuan.

Menteri Kesehatan Nguyen Viet Tien mengatakan dalam sebuah konferensi di beberapa wilayah Vietnam Utara, rasio itu hampir 150/100.

Pemerintah berusaha untuk mengurangi angka aborsi karena jenis kelamin dan melarang tenaga medis untuk memberitahukan jenis kelamin calon bayi pada orangtua.

Namun ini memang bukan solusi yang efektif. Solusi mendasar adalah mengubah pola pikir masyarakat tentang diskriminasi gender ini.

Jumat, 19 Juni 2015

Kisah Pria Shaleh Menundukkan Pandangan dari Gadis Cantik, Allah Menikahkan Mereka

Kisah Pria Shaleh Menundukkan Pandangan dari Gadis Cantik, Allah Menikahkan Mereka -

Ghaddul Bashar atau menundukkan pandangan dari hal-hal yang belum halal adalah sebuah kewajiban bagi seorang Muslim, dimana hal itu untuk menjaga sebuah fitnah keji yang akan menimpa siapa saja yang lalai, karena dengan melihat sesuatu yang gak halal ,maka hanyalah dosa yang akan didapatkan, sebagaimana dianggap sebagai zina mata.

Dari ulasan diatas, terdapat kisah seorang pria shaleh yang berasal dari Maroko tengah menaiki sebuah lift bersama pengguna lainnya, hingga tibalah saat dimana sebagian orang itu sudah keluar karena sudah sampai di lantai yang tepat, kini tinggalah dirinya dengan seorang wanita Amerika yang sangat cantik berada didalam lift dan hanya berdua saja dengan pria Maroko tersebut.

Sang gadis cantik merasa khawatir ia akan dilecehkan oleh pria didepannya itu, hal ini bukan tanpa alasan, karena ia akan berada dengan pria itu agak lama, selain itu banyaknya kasus pelecehan terhadap wanita di New York sangat rawan, apalagi dirinya begitu cantik dan tentu menggoda setiap lelaki untuk mengganggunya.

Setiap detik dia selalu waspada dengan kondisi tersebut, tidak hentinya dia memperhatikan gerak-gerik pria tersebut, hingga beberapa saat kekhawatirannya mulai menghilang saat ia hampir sampai kelantai yang dituju, malah sekarang wanita cantik inilah yang mulai penasaran dengan pria Maroko ini, karena dilihatnya pria itu tak bergemin dari menundukkan pandangannya, mulai awal sampai akhirnya dia mau meninggalkan lift.


Hingga akhirnya sang gadis memberanikan diri bertanya kepada pria yang tetap menundukkan pandangannya tersebut darinya, “Apakah aku gak cantik?”

Pemuda itupun menimpali “Bagaimana aku tahu engkau cantik atau tidak, aku tidak melihat wajahmu,” (jawab pemuda itu tanpa mendongakkan wajahnya).

Hingga terjadilah percakapan berikut :

Gadis    : “Mengapa engau tidak melihatku, apakah aku tidak cantik?”
Pemuda :“Agamaku melarangku.”
Gadis    :“Aku sempat berpikir engkau akan menggangguku”
Pemuda : “Aku takut kepada Allah”
Gadis  : “Agamamu yang telah melarangmu melihat wajah gadis asing, pasti juga melarangmu mengganggu kan?”
Pemuda : “Ya, Islam melarang kami berbuat buruk. Termasuk mengganggu orang lain”

Gadis cantik yang juga sangat cerdas ini langsung berfikir spontan, dan dia berkeyakinan bahwa pria dihadapannya bak mutiara paling mahal yang susah ditemui zaman sekarang, dalam fikirannya Pria yang baik hati, taat kepada agamanya dan pasti setia.

Akhirnya gadis cantik ini bertanya hal yang mungkin sangat tidak biasa bagi wanita di Asia “Maukah engkau menikah denganku?”

Gadis itu tidak peduli apakah nanti pemuda itu mau menolaknya, karena dialog itu hanya mereka yang tahu, jadi gak ada yang perlu ditakutkan, selagi dia berkeyakinan bahwa pemuda itu orang yang baik, kemudian...

Pemuda : “Saya muslim. Apa agamamu?” tanya sang pemuda.
Gadis     : “Saya bukan muslimah”
Pemuda  : “Kalau begitu saya tidak bisa menikah denganmu”
Gadis      : “Jika aku masuk agamamu, apakah engkau mau menikah denganku?”
Pemudak   : “Ya, insya Allah”

Gadis cantik yang ingin dinikahi Pemuda Maroko itupun mengucapkan kalimat Syahadat , dia masuk Islam dan belajar dengan cepat agama Islam, dan ternyata selain cantik, gadis itu juga sangat kaya raya karena mendapatkan harta warisan yang banyak dari orang tuannya, dan pemuda Maroko itu sama sekali tak menyangkanya , bahwa dia akan menikah dengan seorang perempuan cantik sekaligus kaya raya.

Kini gadis cantik itu menjadi muallaf yang baik , dan juga istri yang shalihah buatnya, Subhanallah… Pemuda itu telah menghindarkan dua matanya dari hal yang dilarang Allah, maka Allah kini membalasnya dengan dua kebaikan; mendapatkan gadis itu dan menjadi orang kaya.

Selasa, 09 Juni 2015

Kisah Pilu Perokok Yang Harus Kehilangan Jakun dan Tenggorokannya

Dikutip langsung dari akun facebook Robby Indra Wahyuda menulis :

Kenapa mesti seram liat lubang di leher?

Yang seram itu di balik lubang itu.
Saya gak punya jakun dan tenggorokan.
Apa aja yg tidak berfungsi
Tidak bisa bicara.
Tidak dapat mencium bau
Tidak bisa meludah cuiihh kaya orang..

Gak bisa bicara? Yang jelas membuat penderita cepat marah atau tempramental... karena merasa tidak dimengerti

Gak bisa mencium bau. Sedih jg sih gak bisa cium aroma makanan...

Jadi yg seram lobangnya apa di balik lobangnya..


Di status yg lain dia Robby juga menulis :

Lucu jg yah hidup gw...
Teriak lantang

"MEROKOK MATI GAK MEROKOK MATI. MEDING MEROKOK SAMPAI MATI."

sekarang gw ngeluh ngeluh di sosmed.
Kenapa... kenapa harus gw yg kena sakit ini....
Yah itu lah manusia...
Maklumin aja yah klo gw banyak ngeluh karena kebodohanku dulu..

( oh ya bagi perokok ayo merokok yg banyak, saya masih butuh teman yg bisa senasib dengan saya. Masa yg sakit gini saya aja)


Belajar dari Tukang Bakso


Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.

Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,...terdengar suara tek...tekk.. .tek...suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat..., ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak - anak, siapa yang mau bakso ?

"Mauuuuuuuuu. ...", secara serempak dan kompak anak - anak asuhku menjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. ...

Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.
"Mang kalo boleh tahu, kenapa uang - uang itu Emang pisahkan? Barangkali ada tujuan ?" "Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita – cita penyempurnaan iman ".

"Maksudnya.. ...?", saya melanjutkan bertanya.

"Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :

1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari - hari Emang dan keluarga.

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.

3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.

Hatiku sangat...... .....sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.

Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : "Iya memang bagus...,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya....".

Ia menjawab, " Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI.

Definisi "mampu" adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, "mampu", maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita".

"Masya Allah..., sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso."

(Sumber: www.kisahinspirasi.com).

Selasa, 26 Mei 2015

Lihatlah, Dialah Suamimu

Sebuah Renungan bagi Para Istri


Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... WAHAI para ISTERI, ... Pernahkah kau perhatikan lebih jauh tentang sosok perkasa yang ada dirumahmu, yang menjadi separuh nyawamu itu, dan yang menjadi teman seumur hidup bagimu untuk menghabiskan hari?

Lihatlah dia dalam tidurnya ...

Tidur nyenyaknya seakan menggambarkan betapa seharian ini beliau begitu lelah guna mencukupi nafkah untukmu. Dia menyingsingkan lengannya dan mengusap keringatnya, demi dirimu untuk sebuah tercukupi.

Katup sayu matanya mungkin tengah menahan derasnya air mata dalam tidur, karena jebolnya bendungan hati yang kian tergerus setumpuk masalah hidup. Tapi semua masih tertahan, karena tidak akan tega membiarkan kau dan keluargamu terlunta.

Lihatlah kaki kuat itu ...

Allah yang menopang tubuh renta suamimu, yang menjadi penopang ketika harus menyusuri dunia untuk sebuah kebahagiaanmu, wahai wanita.

Bahkan seperti yang di sabdakan Nabi Muhammad salallahu alaihi wassalam, jikapun memang sesama manusia boleh bersujud, maka di kaki itu, kau harus meletakkan sujudmu dan memasrahkan tanganmu kepadanya.

Lihatlah gurat garis wajahnya ...

Kulitnya yang legam dan kasar itu menandakan beratnya perjuangannya. Seakan disana terukir sebuah perjuangan yang begitu melelahkan namun menenangkan seluruh anggota keluargamu.

Dengan tanpa keluh walaupun sesekali bimbang dalam melintasi, namun tetep menyediakan pundak yang kuat, dan dada yang lapang demi kau bersandar. Lihatlah gurat wajah lelah itu, yang seakan semakin rapuh dari hari ke hari namun tetap teguh demi sebuah yang bernama tanggung jawab.

LIHATLAH PARA ISTERI YANG SHOLIHAH, DIALAH SUAMIMU ...

Lihatlah tangannya ...

Rasakan tangan berkulit kasar itu yang semakin hari semakin terasa kasar. Tangan itulah yang telah menyelamatkanmu menuju sebuah kehormatan dan menggandengmu pada sebuah perlindungan. Tangan inilah yang terkait dengan hati mereka dimana mereka seumur hidup menghabiskan hari harinya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Lihatlah mata mereka ...

Pandangan teduh itulah yang mendamaikanmu. Mengajakmu dengan lindungan dalam kekuatan mereka. Berharap kedamaian menyelimutimu, menghapus sedihmu dan kembali membawa senyum untukmu, wahai para ISTERI.

Pandangan teduh itu yang mengoyak arogansi dan kekuatan mereka demi sebuah cinta yang tulus untuk keluarga . Pandangan teduh yang juga begitu lelah.

Wahai para ISTERI, betapa banyak SUAMI yang tidak dapat memejamkan mata mereka karena beratnya pikiran dan tanggung jawab mereka saat ini.

Subhanallah, maka bahagiakan dan alihkan sedikit beban mereka dengan sebuah kesenangan dan kesyukuran karena kehadiranmu. Bahagiakan mereka dengan meminimalisir keluhanmu atas mereka, dan menghadirkan senyum hari- hari mereka.

Lihatlah ketulusan hati mereka ...

Seorang lelaki yang dengan penuh pengayoman tulus dan pengabdian penuh, telah menghabiskan jatah umur mereka demi memegang kendali kapal rumah tanggamu. Mereka tak mengharapkan balas kecuali kesetiaanmu.

Mereka tak mengharapkan puji kecuali kepandaianmu menjaga anak- anak dan kehormatan diri serta keluarga. Mereka tak mengharapkan pamrih kecuali dengan kebahagiaan, karena terjaganya pendamping yang shalihah di disisinya ..

*************
Sungguh para wanita, ridho suamimu adalah kunci surga dunia bagi dirimu dan surga akherat untuk kau dan keluargamu. Maka hargailah ..

Maka rendahkan suaramu, walaupun mungkin dalam amarahnya yang sempat memuncak. Tak apalah jika mengalahmu bisa menjadi sedikit balasan bagi kelegaan hati mereka. Allah akan tersenyum kepadamu, Allah akan ridho kepadamu, surgapun akan merindukanmu atas semua kebesaran hati dan keluasan jiwamu....

Dan ... sudahkah hari ini kau memanjatkan doa untuk kemudahan jalannya , mengucapkan kata terimakasih untuknya, seraya mencium tangannya dengan penuh cinta ... , berjalan beriringan bersama menuju satu tujuan, Cinta Allah Azza Wa Jalla ...

- Syahidah -

Kisah Istri Shalihah Menanti Suami Koma 6 Tahun


Sosok wanita shalihah dan istri setia melekat pada Ummu Asmaa. Bagaimana tidak, selama bertahun-tahun ia setia menunggui suaminya yang koma. Dokter memvonis suaminya tak mungkin sembuh, bahkan ada syaikh merekomendasikan agar Ummu Asmaa bercerai dan menikah lagi. Tapi ia mengabaikan itu semua. Ia memilih setia. Apa yang akhirnya ia dapat? Ini kisahnya yang mengharukan…

Suamiku adalah pria yang shalih dan berakhlak mulia. Ia juga sangat berbakti pada kedua orangtuanya. Sejak menikah dengannya pada tahun 1390 Hijriyah, kami tinggal bersama orang tuanya di Riyadh. Kebahagiaanku semakin bertambah, saat Allah mengkaruniakan seorang putri kepada kami setahun kemudian. Kami memberinya nama Asmaa.

Ketika putri kami berusia satu tahun, suami pindah kerja di daerah Timur Arab Saudi. Ia bekerja di sana selama sepekan dan pulang ke rumah selama sepekan. Begitu seterusnya hingga tiga tahun lamanya.

Suatu hari, tepatnya pada 9 Ramadhan tahun 1395 H, sebuah berita mengejutkan datang kepada kami. Bak petir di siang hari membelah langit yang cerah. Mobil suamiku terbalik saat pulang menuju Riyadh. Kecelakaan itu begitu hebat hingga membuatnya langsung koma. Ia segera dilarikan ke rumah sakit. Tim dokter spesialis yang menanganinya mengatakan, suamiku mengalami kelumpuhan otak. 95 persen otaknya telah mati.

Hari-hari itu membuatku sangat sedih. Suami tercinta yang selama ini menjadi tumpuan hidup kami kini terbaring koma. Satu hari.. dua hari.. satu pekan.. dua pekan.. waktu terasa sangat lambat, dan kondisi suamiku tak mengalami perubahan apapun. Orangtuanya yang sudah lanjut usia tak kalah sedih. Namun yang membuatku paling sedih, ketika Asmaa menanyakan di mana ayahnya. Mengapa ia tak kunjung pulang. Kami memang menyembunyikan kabar sebenarnya dari Asmaa. “Umi, abi kok tidak pulang-pulang ya, katanya mau membelikan mainan?” tanya Asmaa dengan polosnya. Sambil berusaha menahan air mata, aku hanya bisa menjawab, “Sabar ya sayang… insya Allah nanti abi akan kembali.”

Bulan demi bulan berlalu. Tahun berganti tahun. Tak ada perubahan pada suamiku. Aku dan mertua bergantian menjenguknya.

Lima tahun sudah suamiku koma. Sebagian orang menyarankan agar aku mengajukan cerai ke pengadilan karena menurut dokter tak ada harapan sembuh untuk suamiku. Bahkan, seorang syaikh pun merekomendasikan hal itu setelah mengetahui bahwa otak suamiku lumpuh untuk selamanya.

“Tidak,” jawabku tegas setiap kali ada saran untuk bercerai. “Selama suamiku belum dikubur, aku akan tetap menjadi istrinya.”

Aku pun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah Asmaa. Aku mengajarinya, aku juga memasukkannya ke sekolah tahfidz. Ia mulai terbiasa shalat malam pada usia 7 tahun. Dan alhamdulillah, ia bisa hafal Qur’an sebelum menginjak usia 10 tahun. Seiring bertambahnya hafalan dan kedekatannya dengan Al Qur’an, kedewasaannya pun meningkat melampaui usianya. Aku pikir inilah waktu yang tepat untuk menyampaikan hal sebenarnya tentang ayahnya. Asmaa menangis. Ia sangat sedih mendengar kabar ayahnya. Terkadang, ia juga terlihat diam menyendiri.

Sejak tahu ayahnya koma di rumah sakit, Asmaa selalu membersamaiku ke sana. Ia mendoakan dan meruqyah ayahnya, ia juga bersedekah untuk ayahnya.

Hingga suatu hari pada tahun 1410, Asmaa meminta ijin menginap di rumah sakit. “Aku ingin menunggui ayah malam ini” pintanya dengan nada mengiba. Aku tak bisa mencegah.

Malam itu, Asmaa duduk di samping ayahnya. Ia membaca surat Al Baqarah di sana. Dan begitu selesai ayat terakhirnya, rasa kantuk menyergapnya. Ia tertidur di dekat ayahnya yang masih koma. Tak berapa lama kemudian, Asmaa terbangun. Ada ketenangan dalam tidur singkatnya itu. lalu, ia pun berwudhu dan menunaikan shalat malam.

Selesai shalat beberapa raka’at, rasa kantuk kembali menyergap Asmaa. Tetapi, kantuk itu segera hilang ketika Asmaa merasa ada suara yang memanggilnya, antara tidur dan terjaga. “Bangunlah… bagaimana mungkin engkau tidur sementara waktu ini adalah waktu mustajab untuk berdoa? Allah tidak akan menolak doa hamba di waktu ini”

Asmaa pun kemudian mengangkat tangannya dan berdoa. “Yaa Rabbi, Yaa Hayyu…Yaa ‘Adziim… Yaa Jabbaar… Yaa Kabiir… Yaa Mut’aal… Yaa Rahmaan… Yaa Rahiim… ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada di bawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya… Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim… sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…

Ya Allah… sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh… Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…”

Sebelum Subuh, rasa kantuk datang lagi. Dan Asmaa pun tertidur.

“Siapa engkau, mengapa kau ada di sini?” suara itu membangunkan Asmaa. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari sumber suara. Tak ada orang. Betapa bahagia dirinya, ternyata suara itu adalah suara ayahnya. Ia sadar dari koma panjangnya. Begitu bahagianya Asmaa, ia pun memeluk ayahnya yang masih terbaring. Sang ayah kaget.

“Takutlah kepada Allah. Engkau tidak halal bagiku” kata sang ayah.
“Aku ini putrimu ayah. Aku Asmaa” tak menghiraukan keheranan sang ayah, Asmaa segera menghubungi dokter dan mengatakan apa yang terjadi.

Para dokter yang piket pada pagi itu hanya bisa mengucapkan “masya Allah”. Mereka hampir tak percaya dengan peristiwa menakjubkan ini. Bagaimana mungkin otak yang telah mati kini kembali? Ini benar-benar kekuasaan Allah.

Sementara Abu Asmaa, ia juga heran mengapa dirinya berada di situ. Ketika Asmaa dan ibunya menceritakan bahwa ia telah koma selama tujuh tahun, ia hanya bertasbih dan memuji Allah. “Sungguh Allah Maha Baik. Dialah yang menjaga hamba-hambaNya” simpulnya.

Demikianlah, aku sangat berbahagia dengan keajaiban dari Allah ini. Aku hanya bisa bersykur kepada Allah yang telah mengokohkan kesetiaanku dan membimbingku untuk mentarbiyah putriku. [Kisahikmah.com, ditulis secara bebas dari kisah asli muslm.org]